Sabtu, 31 Mei 2014
Sabtu, 24 Agustus 2013
gagal 'pindah'
Apa usahaku untuk ‘berpindah’? Sedikit
untuk tidak tahu tentangnya dan apa yang dia lakukan akan membuatku cepat untuk
‘berpindah’. Memang, tidak setulusnya aku amnesia tentangnya. Dia terlanjur
melekat direlung hati dan bermuara didalam fikiranku. Meski bibir berucap bahwa
aku telah ‘berpindah’, tapi sejujurnya aku masih saja teringat setiap detail
bersamanya.
Entah bagaimana aku mengartikan perasaan
yang ada saat ini. Mungkin hanya jarak yang mampu melunturkan rasa yang
mengendap sejak lama. Ketika dia ada, rasa ini kembali muncul seperti beberapa
tahun lalu. Ya, masih berdebar. Suatu ketika itu aku bersua dengannya, berusaha
menyembunyikan kegugupanku dihadapnya. Tak kuasa mengucap sepatah katapun
padanya.
tunggu !
Satu tahun sudah tiada bincang-bincang
akrab antara aku dan dia. Dia telah terbiasa tanpa aku, begitupun denganku. Tanpa
lelucon yang biasa kami buat bersama, setahun lalu. Aku tak tahu, apa yang
salah diantara kami. Sampai pada akhirnya, aku merasakan perlahan lunturnya
perasaanku padanya. Perlahan aku telah bisa ‘berpindah’ darinya.
Aku berusaha membuka sedikit celah
dihatiku agar ada beberapa sinar baru yang masuk dan menghangatkan hari-hariku
yang terlanjur dingin akannya. Beberapa telah merasuk dan berusaha mencairkan
bekunya hati ini. Tapi bagaimana jika ternyata sampai saat ini belum ada yang sehangat
dia? Dan dia selalu datang menjelma dalam fikiranku, senyum tersungging
menerkam lamunanku, seakan menahanku untuk bersama yang lain. Apa ini yang
dinamakan gagal ‘berpindah’?
Minggu, 02 Juni 2013
ini yang disebut galau
“Oh, mungkin dia sibuk” gumamku jika dia
tak memberi kabar seharipun.
Dingin, ya sedingin kota dimana aku
menetap saat ini. Aku lelah menantinya yang tak kunjung datang. Pagi siang sore
dan malam menjadi saksi atas kegalauanku. Kicauan-kicauanku menandakan betapa
risaunya aku. Bahkan aku di cap sebagai orang tergalau oleh teman-teman baruku
disini. Mungkin aku tertular virus galau yang menjadi tren di tahun 2012 itu.
Keadaan ini berlangsung begitu lama, tak
pernah ada kabar darinya yang ditujukan untukku. Setiap harinya aku ber-kepo ria untuk melihat aktivitasnya
melalui beberapa media sosial yang dipunyainya. Sindiran kepadanya tercurah
pada kicauan-kicauanku. Apa dia peka dengan itu? Kurasa tidak.
jauh
Kini aku dan dia terpisah ratusan
kilometer. Rasa rindu mulai menguasai hatiku, menjajah dan mulai mengendap. Seperti
biasa, aku hanya bisa menyimpannya. Lalu kuambil beberapa carik kertas dan
mulai menulis tentangnya. Tentang rindu yang tak terungkap. Aku tuangkan semua
kerinduanku pada lembaran-lembaran yang seakan mendukungku untuk terus
merindukannya.
Aku mengingat setiap detail bersamanya. Ejekan
dan gombalannya, yang biasa kami lontarkan secara bersautan, aku ingat. Bahkan aku
masih bisa merasakan rasa sakitnya sebuah rasa yang terpendam. Saat itu dia
memetikkan senar pada gitar ditangannya, entah mengapa aku merasa perasaan ini
semakin mengguncang, dan tiba-tiba air mata mengalir membasahi rok ku saat itu,
dan aku juga ingat itu.
ini perpisahan
Perpisahan yang telah terjadwalkan tiba,
dia akan pergi jauh meninggalkan sebuah cerita yang dilukiskannya padaku. Kota
nan jauh disana telah memanggilnya. Entah berapa lama lagi aku bisa menatap
raut wajahnya. Ya, kereta senja membawanya pergi. Apa yang aku lakukan? Aku hanya
bisa menemaninya dengan beberapa pesan singkat. Pesan singkat seperti ritual
yang harus kami jalankan setiap harinya.
Beberapa tahun ini hanya aku dan Tuhan
yang paham bagaimana caraku menjaganya. Ku tadahkan tanganku, aku memohon agar
Tuhan melindunginya selama ia di kota orang. Ini akan menjadi sebuah rahasia,
pikirku. Aku pandai menyimpan semua ini dari kawan-kawanku. Bahkan dia pun juga
tak mengetahuinya. Mungkin J
senja
Hari itu, aku dan dia berada disuatu ‘kampung’ yang
sama. Aku takkan menyia-nyiakan, ini kesempatan dimana aku bisa bersamanya
setiap hari. Aku tahu, dia akan segera menghilang dari kehidupanku, dia akan
jauh dari sisiku. Tapi aku hanya berharap hatiku dan hatinya tidak akan pernah
jauh.
Sore
itu, ku ayunkan sepeda, melewati senja bersamanya, dan beberapa lainnya. Aku
curi-curi pandang akannya. Apa yang dia rasakan sama sepertiku? Sampai saat aku
menulis tulisan ini, aku tak tahu apa dan siapa yang ada dalam hatinya. Senyum
yang tergores dari wajahnya membuatku merasa nyaman. Gurauan yang terlontar
dari bibirnya membuat aku mati kata.
Tak bisa aku menjawab semua leluconnya,
karena yang kurasakan hanyalah singkatnya waktu. Aku tak kuasa menahan
kesedihan akan kepergiannya yang dapat kuhitung dengan jemariku.
Langganan:
Komentar (Atom)
