Sabtu, 16 Maret 2013

nyaman....


Sempat hati mengaungkan kalimat untuk berhenti mengagumi, tak ada sinyal dan kode yang terungkap. Ingin beranjak lari dari penantian dan kesetiaan. Tapi entah ada angin apa yang berhembus padanya, tiba-tiba dia datang pada makhluk kecil sepertiku. Dia mulai merasuk dalam sepinya hari, menjelma sebagai pangeran berkuda putih yang selama ini aku tunggu. Dan ini saatnya aku memainkan peranku sebagai seorang permaisuri yang menjadi partner seorang pangeran setiap harinya. Hadir saat mentari mulai menampakkan biasnya, berkelana disaat percikan cahaya menyengat ubun-ubun, dan mengucapkan ‘selamat malam’ saat sang rembulan mengambil jatah kerjanya.
Kebahagiaan itu telah menjadi kebiasaanku. Aku mulai terbiasa, nyaman, dan mulai tenggelam pada perhatiannya. Dia serasa nikotin yang selalu membuat ketagihan. Semakin larut dalam perasaan yang semakin dalam. Semakin yakin bahwa akan berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Semakin terasa jika dia adalah pangeran sepanjang masa.

semakin...


Kini, aku telah mengenalnya selama 18 bulan, bukan waktu yang cukup singkat untuk menyimpan sebuah perasaan yang terpendam. Ini hanyalah mengenai ketidak-beranianku untuk membuat sebuah kenyataan dan mengungkapkan kekaguman. Sekedar menatap matanya saja aku tak kuasa, alih-alih aku memancarkan pandanganku ke segala arah. Saat dia berdalih di hadapku, aku merasakan getaran yang saling bersaut hendak melontarkan kekaguman padanya. Untung saja aku punya berbagai alibi untuk selalu berbincang dengannya. Beberapa carik kertas dan tinta telah menjadi saksi bisu saat aku diam-diam mencuri pandang akannya, mengaguminya dengan rumus logaritma yang saat itu belum aku pahami. Menunggunya dengan sistem ekonomi komando, serasa dia yang menjadi komando atas tergeraknya hati dan fikiranku.
Sebuah frame berwarna hitam yang menggantung di daun telinganya membuat aku semakin tertarik padanya. Apalagi dia sekarang adalah sosok yang begitu humoris, membuat orang sekitarnya tertawa dengan tingkahnya. Sampai-sampai aku menertawakan diriku sendiri, jangankan jujur pada orang lain, jujur pada diri sendiri saja aku tak mampu, ini masih dalam konteks sebuah rasa terpendam. Sebenarnya ada perasaan tersiksa dengan kenyataan pahit seperti ini, tak lebih pahit dari obat berbentuk tablet yang dikunyah tanpa pisang, roti, atau air putih. Tapi aku terlanjur akrab dengan penantian dan kerisauan.

pertama.......


Tahun ajaran kali ini berbeda, hiruk pikuk siswa-siswi terasa menggema. Ada tangis pilu karena kelas baru tak sesuai harapan, ada pula kebahagiaan di kala bertemu teman lama. Di kelas ini, berbagai perasaan bercampur aduk menjadi satu. Mereka berbondong-bondong untuk menempati bangku yang kosong.
Ditengah keramaian para jiwa ababil, aku menemukan sosok yang begitu berkharisma. Sepertinya aku telah jatuh cinta saat pertama kali dia berbincang dengan salah satu temanku. Meskipun dia tak melontarkan sebuah kata kepadaku, tapi aku merasakan getaran tersendiri ketika dia berucap. Dia bukanlah salah satu dari sekian banyak cowok keren yang ada di sekolah ini. Aku hanya bisa menggambarkan dirinya, bukan berarti aku bisa menggambarkan perasaanku padanya. Tipe orang pemendam, gengsi tingkat tinggi, ya seperti itulah yang ada padaku.
Sesekali aku merasakan guncangan dalam jiwaku, rasanya ingin berteriak dan menginginkan dia tahu apa yang telah kurasakan. Tapi apalah dayaku, aku hanyalah salah satu dari sekian banyak wanita yang menginginkannya. Aku hanya tak ingin dia tahu jika akhirnya dia akan menghindar. Aku hanya akan memendam ini sampai pada akhirnya dia akan tahu dengan sendirinya. Dan ketika dia tahu, aku ingin dia juga memiliki perasaan yang sama.