Sempat hati mengaungkan kalimat untuk
berhenti mengagumi, tak ada sinyal dan kode yang terungkap. Ingin beranjak lari
dari penantian dan kesetiaan. Tapi entah ada angin apa yang berhembus padanya,
tiba-tiba dia datang pada makhluk kecil sepertiku. Dia mulai merasuk dalam
sepinya hari, menjelma sebagai pangeran berkuda putih yang selama ini aku tunggu.
Dan ini saatnya aku memainkan peranku sebagai seorang permaisuri yang menjadi partner seorang pangeran setiap harinya.
Hadir saat mentari mulai menampakkan biasnya, berkelana disaat percikan cahaya
menyengat ubun-ubun, dan mengucapkan ‘selamat malam’ saat sang rembulan
mengambil jatah kerjanya.
Kebahagiaan itu telah menjadi
kebiasaanku. Aku mulai terbiasa, nyaman, dan mulai tenggelam pada perhatiannya.
Dia serasa nikotin yang selalu membuat ketagihan. Semakin larut dalam perasaan
yang semakin dalam. Semakin yakin bahwa akan berlangsung dalam waktu yang cukup
lama. Semakin terasa jika dia adalah pangeran sepanjang masa.