Kini aku dan dia terpisah ratusan
kilometer. Rasa rindu mulai menguasai hatiku, menjajah dan mulai mengendap. Seperti
biasa, aku hanya bisa menyimpannya. Lalu kuambil beberapa carik kertas dan
mulai menulis tentangnya. Tentang rindu yang tak terungkap. Aku tuangkan semua
kerinduanku pada lembaran-lembaran yang seakan mendukungku untuk terus
merindukannya.
Aku mengingat setiap detail bersamanya. Ejekan
dan gombalannya, yang biasa kami lontarkan secara bersautan, aku ingat. Bahkan aku
masih bisa merasakan rasa sakitnya sebuah rasa yang terpendam. Saat itu dia
memetikkan senar pada gitar ditangannya, entah mengapa aku merasa perasaan ini
semakin mengguncang, dan tiba-tiba air mata mengalir membasahi rok ku saat itu,
dan aku juga ingat itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar