Kini, aku telah mengenalnya selama 18
bulan, bukan waktu yang cukup singkat untuk menyimpan sebuah perasaan yang
terpendam. Ini hanyalah mengenai ketidak-beranianku untuk membuat sebuah
kenyataan dan mengungkapkan kekaguman. Sekedar menatap matanya saja aku tak
kuasa, alih-alih aku memancarkan pandanganku ke segala arah. Saat dia berdalih
di hadapku, aku merasakan getaran yang saling bersaut hendak melontarkan
kekaguman padanya. Untung saja aku punya berbagai alibi untuk selalu berbincang
dengannya. Beberapa carik kertas dan tinta telah menjadi saksi bisu saat aku diam-diam
mencuri pandang akannya, mengaguminya dengan rumus logaritma yang saat itu
belum aku pahami. Menunggunya dengan sistem ekonomi komando, serasa dia yang
menjadi komando atas tergeraknya hati dan fikiranku.
Sebuah frame berwarna hitam yang
menggantung di daun telinganya membuat aku semakin tertarik padanya. Apalagi
dia sekarang adalah sosok yang begitu humoris, membuat orang sekitarnya tertawa
dengan tingkahnya. Sampai-sampai aku menertawakan diriku sendiri, jangankan
jujur pada orang lain, jujur pada diri sendiri saja aku tak mampu, ini masih
dalam konteks sebuah rasa terpendam. Sebenarnya ada perasaan tersiksa dengan
kenyataan pahit seperti ini, tak lebih pahit dari obat berbentuk tablet yang
dikunyah tanpa pisang, roti, atau air putih. Tapi aku terlanjur akrab dengan
penantian dan kerisauan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar