Sabtu, 16 Maret 2013

semakin...


Kini, aku telah mengenalnya selama 18 bulan, bukan waktu yang cukup singkat untuk menyimpan sebuah perasaan yang terpendam. Ini hanyalah mengenai ketidak-beranianku untuk membuat sebuah kenyataan dan mengungkapkan kekaguman. Sekedar menatap matanya saja aku tak kuasa, alih-alih aku memancarkan pandanganku ke segala arah. Saat dia berdalih di hadapku, aku merasakan getaran yang saling bersaut hendak melontarkan kekaguman padanya. Untung saja aku punya berbagai alibi untuk selalu berbincang dengannya. Beberapa carik kertas dan tinta telah menjadi saksi bisu saat aku diam-diam mencuri pandang akannya, mengaguminya dengan rumus logaritma yang saat itu belum aku pahami. Menunggunya dengan sistem ekonomi komando, serasa dia yang menjadi komando atas tergeraknya hati dan fikiranku.
Sebuah frame berwarna hitam yang menggantung di daun telinganya membuat aku semakin tertarik padanya. Apalagi dia sekarang adalah sosok yang begitu humoris, membuat orang sekitarnya tertawa dengan tingkahnya. Sampai-sampai aku menertawakan diriku sendiri, jangankan jujur pada orang lain, jujur pada diri sendiri saja aku tak mampu, ini masih dalam konteks sebuah rasa terpendam. Sebenarnya ada perasaan tersiksa dengan kenyataan pahit seperti ini, tak lebih pahit dari obat berbentuk tablet yang dikunyah tanpa pisang, roti, atau air putih. Tapi aku terlanjur akrab dengan penantian dan kerisauan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar